Memasuki Kampung Cibeureum RT 08 RW
08, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, terlihat berjajar
sekitar 100 kolam terpal warna oranye tempat
pembenihan ikan lele sangkuriang. Kampung
yang dikenal sebagai sentra perajin sandal ini, kini menjadi sentra
usaha pembenihan ikan lele sangkuriang. Ini berkat ketekunan Ade Mulyadi (32),
anak kedua dari enam bersaudara pasangan Muchtar (59) dan Rohani (56), sejak
dua tahun yang lalu.
Keberhasilan
Ade mengembangkan usahanya seperti saat ini tentu tak lepas dari mental bajanya
yang pantang menyerah. Meskipun kaki kanannya cacat karena polio sejak usia 3 tahun, dia berhasil
mengembangkan usaha pembenihan ikan lele
sangkuriang, lele
biakan baru yang kini semakin populer, terutama di Bogor.
Pengembangan
usaha baru,
yakni pembenihan ikan
lele oleh pemuda
itu, boleh disebut sebagai pelopor usaha pembenihan ikan di sentra perajin sandal Cibeureum.
Usahanya bukan main-main. Ade bersama 4 pekerjanya tiap hari mengawasi, merawat
sekitar 100 kolam
pembenihan, dan menabur pakan untuk benih ikan secara tepat waktu dan tepat takarannya. Kolam ikan itu tampak unik
karena dibuat khusus dengan menggunakan terpal warna oranye yang biasa digunakan untuk tenda.
Menurut Ade, usaha pembenihan ikan lele
sangkuriang ini diawali dengan kegagalan dalam mengembangkan usaha pembenihan ikan lele dumbo yang dimodali
ayahnya. Saat itu, lebih dari Rp 75 juta uang yang dikeluarkan ayahnya untuk
modal usaha pembenihan ikan
lele dumbo
amblas.
”Tak
pernah dijual, benih
ikan itu mati diduga
terserang penyakit,” kata Muchtar, ayah Ade. Sebelum bergabung dengan anaknya
mengusahakan pembenihan lele
sangkuriang, Muchtar adalah pedagang di pasar dan perajin sandal.
Belajar
Suatu
hari, Muchtar yang beralih
profesi menjadi pembenih ikan
lele ini memperoleh
keterangan tentang ”pendekar lele sangkuriang” Nasrudin, di Kampung Sukabirus, Desa Gadog,
Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Maka, dia pun mendatangi
Nasrudin untuk mencari tahu atau ”berguru” ilmu perlelean.
Namun, Muchtar tidak lantas berguru
secara langsung. Setelah pertemuan dengan Nasrudin dan mendapat gambaran
mengenai usaha itu, Muchtar kemudian mengutus Ade untuk mengikuti pelatihan
kepada Nasrudin. Setelah itu, Muchtar menyusul bersama dua anaknya yang lain,
Wawan dan Trimulyana, untuk menimba ilmu mengenai pembenihan lele.
Ternyata,
untuk menimba
ilmu tentang lele
tidak perlu waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, apalagi bertahun-tahun. Ade
mengikuti pelatihan hanya selama 3 hari di pusat pelatihan lele Nasrudin di Kampung
Sukabirus. Dia sudah memperoleh ”jurus-jurus” jitu cara memelihara, memberikan
pakan, dan mengatasi penyakit ikan secara tepat.
Tanpa menunggu waktu lagi,
bekal pengetahuan itu langsung diterapkan di lapangan. Kolam-kolam pun dibuat tidak dengan menggali tanah, sebagaimana layaknya
kolam ikan yang kita kenal
selama ini. Mereka menggunakan terpal untuk membuat ”kolam-kolam”
itu, dan kemudian diisi benih ikan lele
sangkuriang. Rupanya tanda-tanda keberhasilan usaha lele itu mulai tampak.
”Berangsur-angsur usaha kami itu,
berhasil,” kata Ade, akhir Maret lalu. Kematian benih lele seperti
yang terjadi saat mengembangkan lele dumbo bisa mereka
atasi. Perlakuan khusus bisa menekan angka kematian benih. Saat ini,
usaha mereka sudah jauh berkembang. Siang itu, misalnya, Ade baru saja melayani pembeli
benih lele
sangkuriang ukuran 4-6 cm sebanyak 4.000 ekor.
Diawali
dari 10 kolam terpal ukuran 2 x 4 meter
untuk pembenihan, kini Ade yang mengembangkan usaha bersama ayah dan adiknya
memiliki sekitar 100 kolam
pembenihan ikan lele sangkuriang. Muchtar
sendiri juga memiliki sekitar 10 kolam pembesaran ukuran 10 x 10 meter.
Satu
paket induk lele sangkuriang terdiri dari 10 betina dan 5
jantan. Ade membeli induk lele
pada Nasrudin seharga Rp 800.000 per paket. Sejak menetas sampai dipanen, usia
benih ikan lele sangkuriang ukuran
4-6 cm butuh waktu sekitar 50 hari. Setiap ekor induk lele sangkuriang bisa menghasilkan
70.000–100.000 ekor benih.
”Saat
ini, setiap bulan kami baru bisa menjual 300.000 benih dengan harga Rp 150 per
ekor,” kata Ade. Pesanan
benih lele memang
terus mengalir. Namun, tidak semua pesanan itu mampu dipenuhi. Ade
mencontohkan, adanya permintaan benih sebanyak 1 juta ekor setiap bulan dari
pembeli warga Tangerang, Banten, tetapi permintaan itu tidak sanggup mereka
penuhi.
”Untuk
melayani peternak ikan lele sangkuriang di daerah Kabupaten/Kota Bogor dan sekitarnya
saja, kami masih kewalahan,” kata Ade. Melihat kondisi seperti itu, Ade mencari
jalan keluar dengan menyiapkan 10 orang binaan sebagai pembenih ikan lele sangkuriang.
Sementara
Muchtar yang memiliki 10 kolam
pembesaran mengisi kolamnya dengan 10.000 ekor benih ukur 4–6 cm. Dari 10.000
benih ini, setelah 45 hari dapat dipanen 1 ton ikan lele ukuran 6–7 ekor per kg. Harga jualnya saat ini Rp 10.500 per
kg. ”Dari panen 1 ton ikan
itu, dipotong pakan dan biaya pemeliharaan, masih ada keuntungan sekitar
Rp 3 juta,” kata Muchtar.
Ade
dan ayahnya, sebagai keluarga pelopor usaha pembenihan ikan lele di sentra Perajin Sandal Cibeureum ini, sekarang sering
menerima kunjungan tamu yang ingin belajar budidaya ikan lele sangkuriang, baik untuk pembenihan maupun pembesaran. ”Kami
dengan senang hati menjelaskan bagaimana caranya menjadi pembudidaya ikan lele sangkuriang,” kata
Ade.
Dia mengatakan, pihaknya memang
berkonsentrasi di bidang pembenihan untuk memasok mereka yang berusaha di
bidang pembesaran lele sangkuriang. ”Lebih menguntungkan jadi
pembenih daripada pembesar ikan,”
kata Ade, seraya menambahkan bahwa kerugian puluhan juta rupiah yang
dideritanya dua tahun yang lalu berangsur-angsur dapat ditutupi dari keuntungan
penjualan benih
ikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar