Prestasi
gemilang kembali ditorehkan Fakultas Peternakan dan Perikanan (Fapetrik)
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tahun lalu Fapetrik memecahkan rekor
sebagai penyelenggara pembuatan sate kelinci terbanyak dan dicatat dalam Musium Rekor Indonesia (MURI).
Kali ini seorang dosennya, M. Sobri, memperoleh sertifikat yang sama. Sobri
menerima penghargaan MURI sebagai penemu ekstrak pakan kelinci tanpa rumput.
“Ini temuan pertama di Indonesia, mungkin juga di dunia. Dengan formula ini, kelinci ternak maupun hias
tidak perlu memakan rumput sehingga merepotkan,” ungkap Sobri.
Lulusan S1 UMM dan S2 UGM ini menemukan formula pakan kelinci setelah melalui berbagai riset yang cukup lama. Sebagai
dosen yang hobi berternak kelinci
dan ayam, Sobri memang selalu ingin memenuhi pakan ternaknya sendiri tanpa harus membeli
terlalu mahal. Apalagi, kelinci
memang memerlukan perlakuan khusus karena jika makanannya tidak tepat akan
menimbulkan bau yang kurang sedap serta mudah terserang penyakit.
“Formula ini cocok untuk kelinci
semua usia. Kelebihannya memeliki kandungan gizi dan protein yang sangat bagus.
Ini juga bisa mempercepat pertumbuhan, menekan mortalitas, dan yang penting
kotorannya tidak bau,” terang Sobri.
Untuk membuat bahan pakan
itu, Sobri meramunya dari berbagai material. Antara lain, jagung, pollar,
bungkil-bungkilan, bekatul, vitamin, mineral, anti oksidan, anti jamur dan anti
bakteri. Sehingga, dipastikan kandungan gizinya lebih baik.
Untuk sementara, Fapetrik telah mencoba memproduksi secara terbatas untuk
pemasaran terbatas pula. Peminat bisa menghubungi dan memesan di Fapetrik UMM.
Dalam waktu dekat, formula yang berupa bubuk dan dikemas ½ Kg itu akan
dikembangkan berupa biskuit padat sehingga mudah dipasarkan. “Pangsa pasarnya
sangat besar karena peminat kelinci,
baik untuk makanan maupun hiasan sangat banyak,” pungkas Sobri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar